( Gambar Illustrasi Dari Salah Satu Sumber Yang Terpercaya Di Kecamatan Cibingbin Kab Kuningan Jawa Bara.)
7DETIKDOTCOM, KISAH MENYALA PERLAWANAN PARA SYUHADA YANG MENGALIR JATUH AIR MATA DAN DARAH DI TANAH CIBINGBIN KUNINGAN JAWA BARAT, - Langit di atas tanah Cibingbin perlahan memerah seperti darah. Pukul 17.30wib, menjelang maghrib. Suasana perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang tenang tiba-tiba berubah menjadi tegang. Di balik pepohonan rindang dan bukit-bukit sunyi, sebuah tragedi paling berdarah dalam sejarah Kuningan sedang merayap mendekat.
Rakyat tak pernah membayangkan, senja itu adalah kali terakhir mereka melihat matahari.
Akibat Perjanjian Renville, pasukan resmi Divisi Siliwangi telah dipaksa hijrah massal ke Jawa Tengah. Jawa Barat diserahpasrahkan kepada Belanda. Namun, di dalam persembunyiannya, milisi Sabilillah di bawah pimpinan Surya Dengkul menolak tunduk.
Mereka mendirikan markas dan Pemerintahan Darurat di Cibingbin—sebuah wilayah yang mereka yakini terlalu terpencil untuk dijangkau mata musuh.
Mereka salah besar. Ada serigala berkulit domba di antara mereka.
Atmo, seorang guru Sekolah Rakyat berpendidikan, menyimpan dendam dan kebencian. Menolak aturan kas desa dari milisi, ia memandang pejuang Republik tak lebih dari pembuat ketaatan palsu. Bagi Atmo, penjajah adalah satu-satunya tuan yang sah.
Dengan langkah tergesa-gesa dan hati yang dingin, Atmo menembus kegelapan malam menuju markas Belanda di Malahayu, Brebes. Ia membocorkan lokasi rahasia itu. Sebuah pengkhianatan fatal yang membukakan pintu neraka bagi desanya sendiri.
Pengepungan Senyap dan Tipu Daya Keji
16 Februari 1948, pukul 05.30 fajar. Kabut tebal masih memeluk bumi ketika dua kompi gabungan serdadu Belanda dan KNIL bergerak bagai hantu. Dibimbing oleh dua penunjuk jalan lokal, Walis dan Sarmin, mereka mengepung rapat Desa Cibingbin dan Cipondok tanpa bersuara.
Siasat licik dimulai. Pasukan KNIL, serdadu bayaran berwajah pribumi, melangkah maju terlebih dahulu ke pemukiman. Mereka tersenyum merakyat dan berseru ragu:
"Jangan takut! Kami Tentara Republik Indonesia (TRI) yang tertinggal hijrah!"
Rakyat yang polos menghela napas lega, menyambut saudara sebangsa mereka dengan tangan terbuka. Tetapi itu adalah perangkap dari manusia-manusia biadab, demi menjadi budak penjilat petinggi serdadu Belanda, dan kepuasan nafsu bejat, mereka berkhianat pada orang sebangsanya sendiri.
Tiba-tiba, dari balik semak dan balik barisan KNIL, serdadu-serdadu Belanda berkulit putih bermunculan dengan senjata siap tembak! Wajah ramah berganti raut iblis.
Lautan Api dan Pekik Takbir Terakhir
DOR! DOR! DOR!
Suara letusan senapan memecah kesunyian fajar. Peluru tajam memotong udara, menembus dada, kepala, dan punggung warga yang berhamburan panik. Jeritan histeris wanita, tangisan anak-anak, dan lolongan kesakitan menyatu dalam ketakutan yang mencekam.
Tanpa belas kasih, serdadu Belanda melempar obor ke rumah-rumah bambu. 200 rumah langsung dilalap si jago merah! Asap hitam membubung tinggi, mengurung warga dalam jebakan api dan timah panas.
Di tengah keos dan kepulan asap yang menyesakkan dada, para pejuang milisi Sabilillah yang tersisa menyadari akhir hayat mereka telah tiba. Tidak ada tempat lari. Tidak ada janji untuk kata menyerah.
Dengan dada membusung dan tangan memegang senjata seadanya, mereka menatap moncong senapan musuh.
"ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!"
Pekik Takbir menggema di antara letupan api dan dentuman tembakan! Dengan sisa keberanian terakhir, para pejuang menerjang maju, memberikan perlawanan penuh keputusasaan namun teramat terhormat. Satu per satu pejuang dan warga roboh, bersimbah darah, gugur sebagai Syahid yang membasahi tanah kelahiran mereka.
Asap Kelam dan Pusara Massal
Penyergapan usai. Suasana mendadak hening, meninggalkan bau amis darah dan daging terbakar yang menyengat. Belanda menarik pasukannya begitu saja, meninggalkan kehancuran total dan 266 nyawa melayang dalam sekejap.
Ketika asap mulai terangkat, pemandangan memilukan terhampar di hadapan orang-orang yang selamat: ratusan mayat membeku di jalanan, pekarangan, dan puing-puing rumah yang hangus.
Duka tak tertahankan menyelimuti seluruh pelosok desa:
175 jiwa melayang di Desa Cipondok.
75 jiwa gugur di Desa Cibingbin.
Sisanya tewas mengenaskan dari desa-desa sekitar.
Dalam kondisi darurat dan ratap tangis yang pecah, rakyat menggali tanah seadanya. 60 jenazah terpaksa ditumpuk dan dikubur bersama-sama dalam satu lubang massal, sementara 195 lainnya dimakamkan di pemakaman umum, dan 9 diletakkan di pekarangan rumah.
Dari ratusan korban, 76 nama lenyap tanpa jejak, tak sempat teridentifikasi.
Tragedi Pembantaian Cibingbin 1948 bukan sekadar catatan sejarah. Itu adalah luka menganga tentang betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan—yang dibayar tuntas dengan darah, air mata, dan pengorbanan suci para syuhada di tanah Kuningan.
---- Diambil Dari Sumber Cerita Rakyat Kuningan-- Perlawanan Para Syuhada Di Tanah Cibingbin Kuningan Jawa Barat.---
( Team Redaksi 7detik.com )