WR. Supratman, Seorang Wartawan Miskin, dan Pencipta Lagu Indonesia Raya

( Wage Rudolf Supratman, Yang Nyaris Di Lupakan Oleh Bangsa Ini."



7DETIKDOTCOM, BUDAYA INDONESIA, - Di balik megahnya lagu "Indonesia Raya", 🇮🇩 tersimpan kisah paling pedih tentang penciptanya. Seorang wartawan miskin yang wafat dalam pelarian, nyaris tanpa tepuk tangan. Inilah kisah lengkap W.R. Soepratman yang akan membuatmu ikut bergetar. 

Bayangkan, orang yang menciptakan lagu paling agung bangsa ini justru meninggal dalam sunyi. 

Sebuah rumah sederhana di Jalan Mangga No. 21, Tambaksari, Surabaya. Di sana, tepat pukul satu dini hari, 17 Agustus 1938, seorang laki-laki berusia 35 tahun menghembuskan napas terakhir. Tubuhnya ringkih, hartanya ludes—bahkan biola kesayangannya pun sudah dijual demi menyambung hidup. Dialah Wage Rudolf Soepratman, sang pencipta lagu kebangsaan "Indonesia Raya".

Tapi kenapa seorang komponis sebesar itu harus meninggal miskin dan nyaris dilupakan? Cerita ini bermula dari sebuah pertanyaan tajam di majalah Timboel terbitan Solo pada 1926: "Manakah komponis Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan yang membangkitkan semangat rakyat?" Pertanyaan itu membakar hati Soepratman muda. Ia pun mulai menulis not-not di malam sunyi, hanya ditemani gesekan biola. Hasilnya? Sebuah mahakarya berjudul "Indones, Indones, Merdeka, Merdeka"—yang kelak kita kenal sebagai "Indonesia Raya" 

Lagu itu pertama kali diperdengarkan di Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Tanpa lirik. Hanya alunan biola. Suasana hening. Para hadirin menunduk, menahan haru. Beberapa menit kemudian, tepuk tangan riuh mengguncang ruangan. Sejak malam itu, nama W.R. Soepratman melambung. Tapi popularitas itu justru menjadi malapetaka baginya.

Pemerintah kolonial Belanda menganggap lagu "Indonesia Raya" sebagai provokasi. Kata "merdeka" di dalamnya dianggap ancaman. Soepratman pun menjadi buronan Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda. Ia dikejar dari satu kota ke kota lain, bersembunyi di rumah kakaknya, Roekijem, di Surabaya. Kesehatannya merosot, paru-parunya basah. Namun ia tak berhenti mencipta.

Puncaknya, pada 7 Agustus 1938—sepuluh hari sebelum wafatnya—Soepratman ditangkap di studio Radio NIROM. Tuduhannya? Lagu terakhirnya, "Matahari Terbit", dianggap menyimpan simpati terhadap Kekaisaran Jepang. Ia dijebloskan ke Penjara Kalisosok. Tubuh yang sudah sakit bertambah lemah. Belanda akhirnya melepaskannya karena tak cukup bukti, tapi itu sudah terlambat.

Di hari-hari terakhirnya, Soepratman terbaring di kasur tipis. Seluruh harta bendanya habis dijual untuk makan dan berobat. Ia bahkan sempat menuliskan secarik kertas berjudul "Selamat Tinggal" dan berpesan kepada kakaknya, "Serahkan lagu Indonesia Raya kepada Badan Kebangsaan." Itulah pesan terakhirnya. Dan keesokan harinya, 17 Agustus 1938, W.R. Soepratman wafat—tujuh tahun sebelum Indonesia merdeka 

Anehnya, ia meninggal tepat di tanggal yang kelak menjadi hari paling bersejarah bagi bangsa ini. Sebuah kebetulan? Atau takdir yang sudah digariskan Sang Maha Kuasa?

Ironi terus berlanjut. Pada 1956, makamnya dipindahkan ke TPU Kapas dan baru pada 1971 ia diakui sebagai Pahlawan Nasional. Penghargaan Bintang Maha Putera Utama pun akhirnya disematkan. Namun, adilkah kita yang kini hanya berdiri tegap menyanyikan "Indonesia Raya" tanpa benar-benar mengenal siapa dia sebenarnya?

W.R. Soepratman tidak pernah menikah, tak punya anak, dan tak sempat menghirup udara kemerdekaan yang ia suarakan lewat gesekan biolanya. Tapi satu hal yang pasti: setiap kali lagu itu berkumandang, semangatnya ikut bergetar di dada kita. 

( Dikutip dari segala sumber/Redaksi 7detik.com

#sejarah #fakta #misteri #viral video #sejarahdunia #sejarah #bumipusaka #sejarah #fakta #misteri #viral video #sejarahdunia #sejarah #bumipusaka #sejarah #fakta #misteri #viral video #sejarahdunia #sejarah #bumipusaka #sejarah #fakta #misteri #viral video #sejarahdunia #sejarah #7detikdotcom