Orang Besar/Pemimpin Yang Kita Pilih, Yang Siap Melayani Kita, Ternyata Cacing Cau Berbulu Domba

( Nasib ya, kita yang hanya tinggal merenungi nasib, dari para manusia yang tidak manusia. "


7DETIKDOTCOM, BERPIKIR UNTUK BERPIKIR BIJAKSANA, MEMILIH -- TERPILIH -- DIPECUNDANGI, - Orang besar:
“Negeri ini sering memuliakan orang besar bukan karena mereka lebih benar, tetapi karena mereka lebih mudah didengar; sementara orang kecil harus berteriak dengan lapar hanya untuk dianggap ada.”

Kita ini hidup di negeri yang sangat menghormati kesetaraan, setidaknya di atas kertas yang harus diurus dengan tiga cap, dua tanda tangan, dan satu senyum palsu. Di loket pelayanan, semua orang memang sama, sama-sama diminta menunggu. Bedanya, yang datang dengan mobil berpelat istimewa sering kali menemukan bahwa antrean adalah konsep yang fleksibel, sementara yang datang dengan sandal jepit harus belajar bahwa waktu adalah bentuk lain dari pajak bagi orang miskin. Barangkali inilah penemuan filsafat administrasi modern "keadilan itu bukan buta, ia hanya rabun terhadap nama besar."

Kekuasaan bekerja seperti parfum mahal, tak terlihat, tapi semua orang langsung menoleh. Seseorang yang biasa saja bisa mendadak dianggap bijaksana hanya karena duduk di kursi empuk dan namanya diawali “Bapak”. Kesalahannya disebut kekhilafan, kerakusannya disebut strategi, dan kebohongannya naik pangkat menjadi diplomasi. Sementara rakyat kecil, bahkan ketika jujur, tetap dicurigai seolah kejujuran adalah kemewahan yang tidak pantas mereka miliki. Rupanya moralitas pun mengenal kelas sosial, dosa orang kaya bisa dicuci dengan klarifikasi, dosa orang miskin dicetak permanen di wajahnya.

Yang paling lucu -dan karena itu paling tragis- adalah bagaimana masyarakat ikut menjaga panggung sandiwara ini. Kita mengeluh tentang ketidakadilan sambil berebut menjadi bagian darinya. Kita mengutuk privilese, tetapi diam-diam berharap punya kenalan yang bisa “membantu urusan.” Seolah cita-cita tertinggi bukanlah menghancurkan sistem yang busuk, melainkan mendapatkan kursi VIP di dalamnya. Ini seperti mengkritik kapal bocor sambil sibuk mencari posisi duduk yang tidak terlalu cepat tenggelam. Satire terbesar bukan pada penguasa, tetapi pada rakyat yang sudah terlalu akrab dengan ketidakadilan hingga menganggapnya tata krama.

Maka barangkali revolusi paling radikal bukan dimulai dari pidato besar, melainkan dari keberanian menganggap orang kecil sebagai manusia penuh, bukan figuran statistik. Masyarakat adil tidak diukur dari megahnya gedung parlemen atau panjangnya pidato pejabat, tetapi dari apakah seorang buruh bisa pulang tanpa dihina, seorang petani bisa mengurus haknya tanpa menyogok, dan seorang miskin bisa sakit tanpa harus lebih dulu merasa bersalah. Sebab jika untuk menjadi manusia saja seseorang harus punya koneksi, maka yang rusak bukan sekadar sistem, melainkan cara kita memahami martabat itu sendiri.

( DIKUTIP DARI BEBERAPA CERITA FAKTA DAN SUMBER TERPERCAYA/REDAKSI.)