( Bahaya Ikan Sapu-Sapu, Membuat Gubernur Jakarta, Ikut nyemplung Kesungai.)
7DETIKDOTCOM, JAKARTA PUSAT, PROPINSI JAKARTA, - Mereka tidak berbahaya bagi manusia. Tidak berbisa, tidak menyerang. Tapi kehadirannya di sungai-sungai Jakarta diam-diam menggerus ekosistem, merusak tanggul, dan mengancam kepunahan ikan lokal. Nama populernya ikan sapu-sapu, dan Jakarta kini sedang kewalahan menghadapinya.
Ikan sapu-sapu, yang secara ilmiah dikenal sebagai Pterygoplichthys pardalis, sejatinya adalah ikan hias asal Amerika Selatan, tepatnya kawasan Sungai Amazon. Masuknya ke Indonesia bermula dari perdagangan akuarium. Masalah muncul ketika para pemilik mulai melepasnya ke sungai setelah bosan memelihara. Di akuarium, ia berguna membersihkan lumut. Di sungai perkotaan, ia berubah menjadi ancaman.
Tanpa predator alami yang mengenalinya sebagai mangsa, populasi ikan ini meledak. Mereka ditemukan memenuhi berbagai aliran sungai di Jakarta, mulai dari Sungai Ciliwung, Kali Pesanggrahan, Kali Angke, hingga kali di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Ahli Ikan dan Konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D., menjelaskan mengapa spesies ini begitu sulit dikendalikan. Satu ekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur. Pejantan menjaga telur di dalam liang hingga menetas, dengan tingkat keberhasilan hidup lebih dari 90 persen. Di dunia biologi, ikan ini dijuluki mesin pembiak.
Kerusakan yang ditimbulkan tidak main-main. Ikan ini menggali lubang di dinding dan bantaran sungai untuk bersarang dan bertelur. Aktivitas itu mempercepat erosi, melemahkan struktur tanah, dan berpotensi merusak tanggul. Selain itu, ia bersaing langsung dengan ikan lokal dalam memperebutkan makanan, bahkan memangsa telur ikan endemik. Dalam jangka panjang, keanekaragaman hayati sungai Jakarta terancam menyusut drastis.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan masyarakat: ikan sapu-sapu dari sungai perkotaan tidak aman untuk dikonsumsi. Sebagai ikan dasar perairan, tubuhnya berpotensi mengakumulasi logam berat dan bakteri berbahaya dari air yang tercemar.
Pemerintah Provinsi Jakarta kini bergerak. Gubernur Jakarta Pramono Anung telah menginstruksikan operasi pembersihan ikan sapu-sapu secara menyeluruh di seluruh wilayah ibu kota. Aksi perdana digelar pada Jumat kemarin pada (10/4/2026), ketika petugas gabungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Wali Kota Jakarta Pusat, serta petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) turun ke Kali Cideng di kawasan Grand Hyatt dan Plaza Indonesia, Kelurahan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Dalam satu setengah jam, petugas PPSU di kawasan Bundaran HI berhasil mengumpulkan lebih dari 80 ekor ikan, yang memenuhi hingga enam karung. Namun petugas mengakui masih banyak ikan yang bersembunyi di sela-sela batu.
Setelah ditangkap, ikan-ikan ini tidak dibuang begitu saja. Mereka dimatikan terlebih dahulu kemudian dikubur di pusat pengolahan di Ciganjur. Kepala Dinas KPKP Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan langkah itu perlu dilakukan karena spesies ini dikenal memiliki daya tahan luar biasa, bahkan mampu bertahan hidup di luar air dalam kondisi tertentu.
Pramono menegaskan operasi ini tidak akan berhenti di Jakarta Pusat saja. Seluruh wilayah dengan populasi ikan sapu-sapu tinggi akan menjadi sasaran berikutnya. Ia mengingatkan, jika dibiarkan, ikan lokal Jakarta bisa hilang satu per satu.
Fenomena ini adalah pengingat keras tentang konsekuensi nyata dari kebiasaan sederhana yang terlihat sepele: membuang ikan peliharaan ke sungai. Apa yang masuk ke air tidak pernah benar-benar pergi begitu saja.
(Ibn/Kontributor Jakarta.)