Halal Bihalal Zuriat Kesultanan Negeri Langkat: Tegaskan Pengembalian Aset, Jaga Marwah Adat, dan Dorong Kebangkitan Umat

  (Halal Bihalal Zuriat Kesultanan Negeri Langkat: Tegaskan Pengembalian Aset, Jaga Marwah Adat, dan Dorong Kebangkitan Umat.) 




7DETIKDOTCOM, KABUPATEN LANGKAT, SUMATERA UTARA, - Kegiatan Halal Bihalal Zuriat Kesultanan Negeri Langkat berlangsung penuh khidmat dan sarat makna di kawasan bersejarah Tanjung Pura. Momentum ini bukan sekadar tradisi silaturahmi pasca-Idulfitri, tetapi menjadi forum penting konsolidasi keluarga besar kesultanan untuk membahas masa depan warisan sejarah, marwah adat, dan kesejahteraan masyarakat Langkat.

Dalam pertemuan tersebut, salah satu poin utama yang mengemuka adalah penegasan upaya pengembalian aset-aset Kesultanan Negeri Langkat, termasuk berbagai aset konsesi yang secara historis menjadi bagian dari hak kesultanan. Aset tersebut meliputi lahan, perkebunan, potensi sumber daya alam, serta hak-hak ekonomi lain yang dahulu menjadi penopang kejayaan negeri. Para zuriat menilai penataan dan pemulihan hak atas aset tersebut penting dilakukan melalui jalur yang sah, tertib, dan bermartabat.

Putra Mahkota Kesultanan Negeri Langkat, Tengku Besar Pangeran Ariefanda Aziz, dalam keterangannya menegaskan bahwa perjuangan pengembalian aset bukan dilandasi kepentingan pribadi, melainkan demi mengangkat kembali martabat Langkat dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas. _“Apa yang menjadi hak warisan negeri harus dikembalikan kepada jalan yang benar, agar dapat dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemajuan umat dan kesejahteraan masyarakat,”_ tegasnya.

Pengembalian aset ditegaskan bukan semata persoalan kepemilikan, melainkan amanah sejarah yang harus diarahkan untuk kemaslahatan bersama. Jika dikelola dengan benar, aset-aset itu diyakini dapat menjadi fondasi bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pembukaan lapangan kerja, penguatan pendidikan, kegiatan sosial, serta pembangunan wisata budaya berbasis sejarah Melayu Langkat.

Selain isu aset, forum juga menegaskan pentingnya menjaga nama baik lembaga adat. Disampaikan pesan agar tidak ada pihak mana pun yang mengatasnamakan Kerapatan Adat Kesultanan Langkat atau institusi kesultanan untuk kepentingan pribadi, kelompok, ataupun agenda yang merugikan persatuan. Adat adalah amanah bersama, bukan alat mencari keuntungan perseorangan. Karena itu, setiap gerak dan pernyataan yang membawa nama kesultanan harus dilandasi kejujuran, musyawarah, dan tanggung jawab akan harkat martabat kesultanan.

Dalam kesempatan itu, Tengku Besar Pangeran Ariefanda Aziz juga mengingatkan pentingnya persatuan internal keluarga besar kesultanan. _“Warisan yang besar hanya dapat dijaga dengan kebersamaan. Jika bersatu, kita kuat. Jika terpecah, maka sejarah akan tinggal cerita,”_ ujarnya.

Rangkaian kegiatan turut diisi dengan ziarah ke makam para Sultan di kompleks Masjid Azizi. Ziarah tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah membangun peradaban, menegakkan syiar Islam, dan mewariskan identitas besar bagi Langkat. Dari makam para pendahulu, generasi hari ini diingatkan bahwa jabatan, harta, dan kekuasaan akan berakhir, sedangkan amal, nama baik, dan manfaat bagi umatlah yang akan dikenang.

Suasana kebersamaan yang terbangun dalam Halal Bihalal ini membawa harapan baru agar zuriat, tokoh adat, ulama, pemerintah, dan masyarakat dapat berjalan seiring dalam semangat persatuan. Warisan sejarah tidak cukup hanya dibanggakan, tetapi harus dikelola dengan ilmu, amanah, dan kerja nyata.

Dengan demikian, Halal Bihalal Zuriat Kesultanan Negeri Langkat diharapkan menjadi titik awal kebangkitan baru: mengembalikan hak yang tertunda, menjaga marwah adat dari penyalahgunaan, meneladani perjuangan para pendahulu, serta menghadirkan maslahat bagi generasi kini dan yang akan datang.

(T Arief/Redaksi.)