Batak Bukan Suku, Tapi Istilah

  ( Walikota Medan Di Ontrog Umat Islam Di Kota Medan Sumatera Utara. )




7DETIKDOTCOM, KOTA MEDAN, SUMATERA UTARA,- Polemik terkait Surat Edaran Walikota Medan tentang penertiban penjualan daging non halal menimbulkan perdebatan tentang persoalan sejarah tanah Deli. Perdebatan tersebut semakin memanas pasca munculnya unggahan Abu Janda yang menyebut kota Medan sebagai tanah batak. Kamis 16 April 2026.

Buntut dari perdebatan itu memunculkan satu pertanyaan besar, apakah setiap yang bermarga di Sumut adalah orang batak? Apa benar bahwa batak salah satu suku tertua di negeri ini? Lalu kenapa tak seorangpun tau arti kata _batak_ itu sendiri?

Berdasarkan penelusuran sejarah, ternyata kata batak baru dikenal luas di abad ke 19. Hal ni dibuktikan dengan ketiadaan catatan sejarah dimasa lalu yang menyebut kata batak. Catatan tertua yang ada hanya menyebut kata _"battas"_ yang kemudian dianalogikan sebagai bentuk awal dr kata batak.

Arsip VOC abad ke 17 menyebutkan :
“De Battas zijn een volk in het binnenland van Sumatra…”
Terjemahan :
"Orang Battas adalah penduduk pedalaman Sumatra…"

Barulah diabad ke 19 missionaris Herman Neubronner Van Der Tuuk menulis dalam journalnya :
“Onder de Bataks bestaan vele onderscheidene stammen, elk met eigen zeden.”
Terjemahan:
“Di antara orang Batak terdapat banyak kelompok berbeda, masing-masing dengan adatnya sendiri.”

Ini adalah catatan pertama dalam sejarah yang menyebut kata batak secara jelas.

Catatan sejarah ini membuktikan secara gamblang bahwa batak bukanlah suatu suku melainkan diksi yang digunakan penjajah untuk menyebut kelompok masyarakat pedalaman yang berbeda dengan masyarakat pesisir.

Begitu pula prasasti-prasasti kuno yang ditemukan di sekitar wilayah tapanuli seperti :
1. Prasasti Batu Kapur dari abad ke 7
2. Prasasti Lobu Tua dari abad ke 11
3. Prasasti Panai dari abad ke 11
4. Pustaha-pustaha kuno
Tak satupun yang memuat kata batak...

Hal ini kian menguatkan bahwa batak bukanlah suatu suku tertentu melainkan sebuah diksi yang dipakai oleh penjajah karena keterbatasan literasi dalam penyebutannya.

(Rony syamsury/Redaksi.)